Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

REFLEKSI

Tahun ini, aku melalui banyak sekali hal. Yang paling berat? Jelas melawan diri sendiri—melawan pikiran yang sering ingin menyerah, melawan luka lama yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba, dan belajar berdamai dengan versi diri yang tidak selalu kuat, tidak selalu tahu harus melangkah ke mana. Sekarang, aku tak lagi memandang hidup sebagai perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai. Aku belajar melihatnya sebagai perjalanan pulang—tentang bertahan, bernapas, dan tetap memilih hidup meski kadang jalannya sunyi dan melelahkan. Aku tidak mendapatkan hal yang paling kuinginkan pertengahan tahun ini, tapi aku dapat gantinya yang jauh berkali-kali lipat lebih: ruang aman, pertemanan yang tulus, kesempatan untuk didengar dan mendengar, serta keyakinan kecil bahwa apa yang kulakukan ternyata bermakna bagi orang lain, setidaknya. Siapa yang membantuku bertahan? Kawan-kawan di Partai Buku dan teman-teman di ELZAHRACADEMY, itu sudah jelas. Interaksi, perhatian, ketulusan, obrolan sederhana, ...

ASATAN

Namanya Festival Asatan. Ada tradisi yang sudah lama hidup di sini. Ada panggung kesenian tradisional, duel ojung, dan warna-warni budaya yang bergerak dan bernapas setiap hari. Ada bazaar tempat orang belanja, jajan, duduk-duduk, juga piknik kecil sambil ngobrol ke sana kemari. Aku suka banget berada di sini. Ketemu banyak orang-orang keren—bukan cuma dari apa yang mereka lakukan, tapi dari sikap-sikap kecil yang terasa hangat dan manusiawi. Anak-anak berlarian. Orang dewasa bercakap sambil cari ikan, lalu menunggu pertunjukan dimulai. Tak ada agenda rumit, kami hanya datang, melihat, menikmati, sebagian pulang dengan perasaan sedikit lebih penuh lagi. Tapi di sela semua itu, ada satu hal yang mengusikku: asap rokok yang mencemari. Dan di momen itu, aku jadi ingat alasanku dulu sering memilih tidak berkumpul, bukan karena tak suka orang-orangnya, tapi karena ruang bersama kadang belum ramah untuk semua. Meski begitu, aku tetap ingin berharap. Sedikit berharap. Semoga dunia bisa lebih ...

AFIRMASI (3)

Aku aman malam ini. Tubuhku sudah berusaha keras, dan sekarang ia boleh beristirahat. Aku dikelilingi orang-orang yang sangat baik. Mereka hadir tanpa memaksaku menjadi apa pun. Aku tidak perlu takut ditinggalkan. Kehangatan yang kuterima hari ini tidak hilang saat malam datang. Aku dicintai dengan cara yang sederhana dan tulus. Dan itu cukup. Aku boleh bersandar, dan aku juga mampu berdiri sendiri. Dua hal itu bisa ada bersamaan. Apa yang membuatku sesak tadi sudah berlalu. Napas ini pelan-pelan kembali ke tempatnya. Malam ini, aku tidak perlu memikirkan besok. Tidak perlu merapikan semuanya sekarang. Aku beristirahat dalam rasa cukup. Aku tidur dengan hati yang lebih ringan. "Aku aman, aku ditemani, dan aku boleh tidur sekarang."

LAGI (2)

Hari ini setelah sekian lama depresiku kambuh. Kenapa aku bisa bilang begitu? Karena kemarin aku periksa, dan dokter mengatakannya begitu. Aku harus dirawat lagi, tapi aku menolak. Aku mencoba bertahan. Entah kenapa aku masih punya harapan kecil kalau alasan yang dulu membuatku bangun mati-matian tahun ini bisa menarikku lagi dari lubang itu. Aku baru sadar kenapa Tuhan menakdirkanku hidup dengan anak-anak ini. Karena mereka terus saja menarikku setiap hari, 24 jam tanpa henti. Begitu juga dengan semua hal yang sedang kuusahakan sekarang. Itu semua adalah perjuanganku untuk punya alasan, untuk tetap ada. Aku pikir aku sudah baik-baik saja. Aku pikir aku sudah pulih. Aku pikir tahun ini akan berakhir tenang dan aku bisa masuk ke 2026 sebagai diriku yang baru, yang kubayangkan adalah kehidupan keduaku. Tapi ternyata tidak. Akhir tahun ini justru diisi rasa bersalah yang datang dari banyak arah. Aku tidak bisa merawat Ibu yang sedang sakit. Tubuhku sendiri entah kenapa melemah dan aku s...