Postingan

Halo! Selamat datang di blog Aisyah El Zahra!

REFLEKSI

Tahun ini, aku melalui banyak sekali hal. Yang paling berat? Jelas melawan diri sendiri—melawan pikiran yang sering ingin menyerah, melawan luka lama yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba, dan belajar berdamai dengan versi diri yang tidak selalu kuat, tidak selalu tahu harus melangkah ke mana. Sekarang, aku tak lagi memandang hidup sebagai perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai. Aku belajar melihatnya sebagai perjalanan pulang—tentang bertahan, bernapas, dan tetap memilih hidup meski kadang jalannya sunyi dan melelahkan. Aku tidak mendapatkan hal yang paling kuinginkan pertengahan tahun ini, tapi aku dapat gantinya yang jauh berkali-kali lipat lebih: ruang aman, pertemanan yang tulus, kesempatan untuk didengar dan mendengar, serta keyakinan kecil bahwa apa yang kulakukan ternyata bermakna bagi orang lain, setidaknya. Siapa yang membantuku bertahan? Kawan-kawan di Partai Buku dan teman-teman di ELZAHRACADEMY, itu sudah jelas. Interaksi, perhatian, ketulusan, obrolan sederhana, ...

ASATAN

Namanya Festival Asatan. Ada tradisi yang sudah lama hidup di sini. Ada panggung kesenian tradisional, duel ojung, dan warna-warni budaya yang bergerak dan bernapas setiap hari. Ada bazaar tempat orang belanja, jajan, duduk-duduk, juga piknik kecil sambil ngobrol ke sana kemari. Aku suka banget berada di sini. Ketemu banyak orang-orang keren—bukan cuma dari apa yang mereka lakukan, tapi dari sikap-sikap kecil yang terasa hangat dan manusiawi. Anak-anak berlarian. Orang dewasa bercakap sambil cari ikan, lalu menunggu pertunjukan dimulai. Tak ada agenda rumit, kami hanya datang, melihat, menikmati, sebagian pulang dengan perasaan sedikit lebih penuh lagi. Tapi di sela semua itu, ada satu hal yang mengusikku: asap rokok yang mencemari. Dan di momen itu, aku jadi ingat alasanku dulu sering memilih tidak berkumpul, bukan karena tak suka orang-orangnya, tapi karena ruang bersama kadang belum ramah untuk semua. Meski begitu, aku tetap ingin berharap. Sedikit berharap. Semoga dunia bisa lebih ...

AFIRMASI (3)

Aku aman malam ini. Tubuhku sudah berusaha keras, dan sekarang ia boleh beristirahat. Aku dikelilingi orang-orang yang sangat baik. Mereka hadir tanpa memaksaku menjadi apa pun. Aku tidak perlu takut ditinggalkan. Kehangatan yang kuterima hari ini tidak hilang saat malam datang. Aku dicintai dengan cara yang sederhana dan tulus. Dan itu cukup. Aku boleh bersandar, dan aku juga mampu berdiri sendiri. Dua hal itu bisa ada bersamaan. Apa yang membuatku sesak tadi sudah berlalu. Napas ini pelan-pelan kembali ke tempatnya. Malam ini, aku tidak perlu memikirkan besok. Tidak perlu merapikan semuanya sekarang. Aku beristirahat dalam rasa cukup. Aku tidur dengan hati yang lebih ringan. "Aku aman, aku ditemani, dan aku boleh tidur sekarang."

LAGI (2)

Hari ini setelah sekian lama depresiku kambuh. Kenapa aku bisa bilang begitu? Karena kemarin aku periksa, dan dokter mengatakannya begitu. Aku harus dirawat lagi, tapi aku menolak. Aku mencoba bertahan. Entah kenapa aku masih punya harapan kecil kalau alasan yang dulu membuatku bangun mati-matian tahun ini bisa menarikku lagi dari lubang itu. Aku baru sadar kenapa Tuhan menakdirkanku hidup dengan anak-anak ini. Karena mereka terus saja menarikku setiap hari, 24 jam tanpa henti. Begitu juga dengan semua hal yang sedang kuusahakan sekarang. Itu semua adalah perjuanganku untuk punya alasan, untuk tetap ada. Aku pikir aku sudah baik-baik saja. Aku pikir aku sudah pulih. Aku pikir tahun ini akan berakhir tenang dan aku bisa masuk ke 2026 sebagai diriku yang baru, yang kubayangkan adalah kehidupan keduaku. Tapi ternyata tidak. Akhir tahun ini justru diisi rasa bersalah yang datang dari banyak arah. Aku tidak bisa merawat Ibu yang sedang sakit. Tubuhku sendiri entah kenapa melemah dan aku s...

UDARA

Gambar
Dadaku ditusuk sembilu. Lagi. Berulang-ulang, rasanya sakit setengah mati.  Kukira aku sudah pulih.  Tapi ternyata aku masih di sini. Terus berjuang melawan semua, kesekian kali. Kepalaku ramai. Pandanganku gelap, dunia sunyi. Jantungku bertalu, menghantamku sekuat itu.  Setelah pergi ke sana kemari, mencoba segala hal di ruang kecilku, aku masih kembali ke titik ini. Titik yang kubenci. Rasa bersalah merongrong, ketakutan menyelimuti. Aku merasa sendiri.  Sampai seseorang, beberapa orang, berbisik di telingaku. Hei. Kamu tidak pernah sendiri. Ada kami di sini. Coba bernapas. Kami tahu kamu bisa. Kamu jauh lebih kuat dari yang kamu ketahui.  Kepalaku tidak terima. Ia teriak, menyuruhku mengikutinya. Aku mulai mendengar suara-suara. Sebagian ramah, lainnya murka. Menarikku ke sini dan ke sana.  Aku megap-megap mencari udara. Kapan ya aku bisa, hidup tanpa segala rasa yang begitu menyakitkannya?

PEKARANGAN INSTITUTE

Gambar
Ada tempat di mana proses belajar tak hanya terjadi lewat buku, guru, ataupun diskusi formal. Tempat yang membiarkan kita duduk dalam diam, mendengarkan bunyi angin, meresapi jejak langkah, dan menangkap suara hati yang lama tertinggal. Tempat itu bernama Pekarangan Institute . Aku baru saja kembali dari sana—sebuah pengalaman yang tak mudah dirangkai dalam sebuah kalimat. Di sanalah aku belajar, bukan semata tentang kata, tapi tentang makna yang tersembunyi di balik jeda . 🌱 Belajar dari Diam dan Rasa Di ruang itu, aku diajak untuk bergerak perlahan . Untuk menepi dari hiruk-pikuk dunia luar dan mendekat pada riuh yang ada di dalam jiwa. Belajar dari alam yang diam tapi tak pernah lalai memberi cinta. Dari kesunyian yang justru menjadi guru paling jujur bagi kita. Aku belajar tentang: Kesabaran , bukan hanya untuk orang lain, tapi pada diri sendiri yang sering terburu-buru ingin selesai. Kekuatan , bukan yang gagah dan lantang, tapi justru penuh ketenangan dan kelembutan....

SURAT (4)

Untuk aku yang pernah hidup sepenuhnya, Aku tahu kamu masih ada di dalam sini. Aku dengar langkah-langkahmu, walau kini hanya berupa gema dalam kepalaku yang penat. Dulu kamu berjalan ringan, membawa ransel kecil tapi hati yang lapang. Memberi, menjumpai, merasa—tanpa takut ditinggal atau ditolak. Dulu kamu hidup bukan untuk pencapaian, tapi untuk pengalaman. Dan itu cukup. Hari-hari ini, aku kehilangan jejakmu. Tersesat dalam dunia yang penuh rencana, tapi terasa hampa. Aku coba menjadi seperti yang diharapkan. Tangguh, pintar, “bermanfaat.” Tapi ternyata, itu membuatku menjauh darimu. Hari ini, aku memanggilmu pulang. Tak harus dengan koper atau peta. Cukup duduk sebentar, membuka hati, dan mendengar lagi suara langkahmu. Aku janji, akan memberimu ruang. Untuk berjalan. Atau sekadar diam.  Tunggu aku. Aku sedang kembali padamu, sedikit demi sedikit. — dari aku yang (masih) mencintaimu.