Dadaku ditusuk sembilu. Lagi. Berulang-ulang, rasanya sakit setengah mati. Kukira aku sudah pulih. Tapi ternyata aku masih di sini. Terus berjuang melawan semua, kesekian kali. Kepalaku ramai. Pandanganku gelap, dunia sunyi. Jantungku bertalu, menghantamku sekuat itu. Setelah pergi ke sana kemari, mencoba segala hal di ruang kecilku, aku masih kembali ke titik ini. Titik yang kubenci. Rasa bersalah merongrong, ketakutan menyelimuti. Aku merasa sendiri. Sampai seseorang, beberapa orang, berbisik di telingaku. Hei. Kamu tidak pernah sendiri. Ada kami di sini. Coba bernapas. Kami tahu kamu bisa. Kamu jauh lebih kuat dari yang kamu ketahui. Kepalaku tidak terima. Ia teriak, menyuruhku mengikutinya. Aku mulai mendengar suara-suara. Sebagian ramah, lainnya murka. Menarikku ke sini dan ke sana. Aku megap-megap mencari udara. Kapan ya aku bisa, hidup tanpa segala rasa yang begitu menyakitkannya?
Tahun ini, aku melalui banyak sekali hal. Yang paling berat? Jelas melawan diri sendiri—melawan pikiran yang sering ingin menyerah, melawan luka lama yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba, dan belajar berdamai dengan versi diri yang tidak selalu kuat, tidak selalu tahu harus melangkah ke mana. Sekarang, aku tak lagi memandang hidup sebagai perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai. Aku belajar melihatnya sebagai perjalanan pulang—tentang bertahan, bernapas, dan tetap memilih hidup meski kadang jalannya sunyi dan melelahkan. Aku tidak mendapatkan hal yang paling kuinginkan pertengahan tahun ini, tapi aku dapat gantinya yang jauh berkali-kali lipat lebih: ruang aman, pertemanan yang tulus, kesempatan untuk didengar dan mendengar, serta keyakinan kecil bahwa apa yang kulakukan ternyata bermakna bagi orang lain, setidaknya. Siapa yang membantuku bertahan? Kawan-kawan di Partai Buku dan teman-teman di ELZAHRACADEMY, itu sudah jelas. Interaksi, perhatian, ketulusan, obrolan sederhana, ...
Aku aman malam ini. Tubuhku sudah berusaha keras, dan sekarang ia boleh beristirahat. Aku dikelilingi orang-orang yang sangat baik. Mereka hadir tanpa memaksaku menjadi apa pun. Aku tidak perlu takut ditinggalkan. Kehangatan yang kuterima hari ini tidak hilang saat malam datang. Aku dicintai dengan cara yang sederhana dan tulus. Dan itu cukup. Aku boleh bersandar, dan aku juga mampu berdiri sendiri. Dua hal itu bisa ada bersamaan. Apa yang membuatku sesak tadi sudah berlalu. Napas ini pelan-pelan kembali ke tempatnya. Malam ini, aku tidak perlu memikirkan besok. Tidak perlu merapikan semuanya sekarang. Aku beristirahat dalam rasa cukup. Aku tidur dengan hati yang lebih ringan. "Aku aman, aku ditemani, dan aku boleh tidur sekarang."
Komentar