Dadaku ditusuk sembilu. Lagi. Berulang-ulang, rasanya sakit setengah mati. Kukira aku sudah pulih. Tapi ternyata aku masih di sini. Terus berjuang melawan semua, kesekian kali. Kepalaku ramai. Pandanganku gelap, dunia sunyi. Jantungku bertalu, menghantamku sekuat itu. Setelah pergi ke sana kemari, mencoba segala hal di ruang kecilku, aku masih kembali ke titik ini. Titik yang kubenci. Rasa bersalah merongrong, ketakutan menyelimuti. Aku merasa sendiri. Sampai seseorang, beberapa orang, berbisik di telingaku. Hei. Kamu tidak pernah sendiri. Ada kami di sini. Coba bernapas. Kami tahu kamu bisa. Kamu jauh lebih kuat dari yang kamu ketahui. Kepalaku tidak terima. Ia teriak, menyuruhku mengikutinya. Aku mulai mendengar suara-suara. Sebagian ramah, lainnya murka. Menarikku ke sini dan ke sana. Aku megap-megap mencari udara. Kapan ya aku bisa, hidup tanpa segala rasa yang begitu menyakitkannya?
Ada tempat di mana proses belajar tak hanya terjadi lewat buku, guru, ataupun diskusi formal. Tempat yang membiarkan kita duduk dalam diam, mendengarkan bunyi angin, meresapi jejak langkah, dan menangkap suara hati yang lama tertinggal. Tempat itu bernama Pekarangan Institute . Aku baru saja kembali dari sana—sebuah pengalaman yang tak mudah dirangkai dalam sebuah kalimat. Di sanalah aku belajar, bukan semata tentang kata, tapi tentang makna yang tersembunyi di balik jeda . 🌱 Belajar dari Diam dan Rasa Di ruang itu, aku diajak untuk bergerak perlahan . Untuk menepi dari hiruk-pikuk dunia luar dan mendekat pada riuh yang ada di dalam jiwa. Belajar dari alam yang diam tapi tak pernah lalai memberi cinta. Dari kesunyian yang justru menjadi guru paling jujur bagi kita. Aku belajar tentang: Kesabaran , bukan hanya untuk orang lain, tapi pada diri sendiri yang sering terburu-buru ingin selesai. Kekuatan , bukan yang gagah dan lantang, tapi justru penuh ketenangan dan kelembutan....
Tahun ini, aku melalui banyak sekali hal. Yang paling berat? Jelas melawan diri sendiri—melawan pikiran yang sering ingin menyerah, melawan luka lama yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba, dan belajar berdamai dengan versi diri yang tidak selalu kuat, tidak selalu tahu harus melangkah ke mana. Sekarang, aku tak lagi memandang hidup sebagai perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai. Aku belajar melihatnya sebagai perjalanan pulang—tentang bertahan, bernapas, dan tetap memilih hidup meski kadang jalannya sunyi dan melelahkan. Aku tidak mendapatkan hal yang paling kuinginkan pertengahan tahun ini, tapi aku dapat gantinya yang jauh berkali-kali lipat lebih: ruang aman, pertemanan yang tulus, kesempatan untuk didengar dan mendengar, serta keyakinan kecil bahwa apa yang kulakukan ternyata bermakna bagi orang lain, setidaknya. Siapa yang membantuku bertahan? Kawan-kawan di Partai Buku dan teman-teman di ELZAHRACADEMY, itu sudah jelas. Interaksi, perhatian, ketulusan, obrolan sederhana, ...
Komentar